di bali

di bali

Selasa, 04 Mei 2010

ASPEK EKONOMI DARI ZAKAT DAN WAKAF

Dr. Mardani

Dosen PPs IEF Usakti

Pengertian zakat

Kata zakat berasal dari kata zaka yang merupakan isim masdar, yang secara etimologis mempunyai beberapa arti yaitu suci, tumbuh, berkah, terpuji, tumbuh dan berkembang. Sedangkan secara terminologis zakat adalah sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah diserahkan kepada orang-orang yang berhak. Menurut Undang-undang No. 38 tahun 1998 tentang pengelolaan zakat pengertian zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan yang dimiliki oleh orang muslim sesuai ketentuan agama untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.

Selain kata zakat, al-Qur’an juga menggunkana kata shadaqah untuk mengungkapkan maksud zakat seperti dalam surah 9 ayat 103, surah 9 ayat 58 dan 60. Dalam hadits Nabi tentang penempatan Mu’az di Yaman , Nabi bersabda : “ Terangkanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan shadaqah, yang dikenakan pada kekayaan orang –orang kaya “. Semua ayat dan hadits tersebut adalah tentang zakat, tetapi diungkapkan dengan dengan istilah shadaqah. Terdapat pula penggunaan istilah musdaddiq untuk amil, oleh karena ia bertugas mengumpulkan dan membagi-bagikan shadaqah tersebut. Namun dalam penggunaan sehari-hari kata shadaqah itu disalah artikan, yaitu hanya berarti shadaqah yang diberikan kepada pengemis dan peminta-minta. Tetapi hal ini tidak boleh membuat kita lupa bagaimana sebenarnya pengertian satu kata dalam bahasa arab pada zaman al-Qur’an turun. Kata shadaqah sesungguhnya berasal dari kata shidq yang berarti benar.

Qadhi Abu Bakr bin Arabi mempunyai pendapat yang sangat berharga tentang mengapa zakat dinamakan shadaqah. Kata shadaqah berasal dari kata shidq, benar dalam hubungan dengan sejalannya perbuatan dan ucapan dan keyakinan.

Bangunan shad-dal-Qaf bermakna “ terwujudnya sesuatu oleh sesuatu, atau membantu terwujudnya sesuatu itu”. Contoh diantaranya adalah shidaq berarti mahar buat perempuan, yaitu terwujudnya dan diakuinya kesahaan hubungan suami isteri dengan diterimanya mahar dan terlaksananya perkawinan menurut tata cara tertentu.

Pengertian zakat memang berubah sesuai dengan perubahan tasrif katanya. “Banyak kata shaddaqa dalam berbicara, berarti “benar”, bentuk kata tashaddaqa dalam hal kekayaan berarti “dizakatkan”, dan bentuk kata ashdaqa kepada perempuan, berarti “membayar mahar” perempuan tersebut. Perubahan tasrif ini dimaksudkan untuk menunjukan arti tertentu setiap kasus, dan diungkapkanya semua dengan akar kata shadaq dimaksudkan untuk menunjukan perbuatan menyedekahkan itu: bahwa orang yang yakin hari kebangkitan ada, negeri akherat adalah negeri tujuan, dan dunia adalah jembatan buat akhirat dan jerbang kejahatan maupun kebaikan, maka orang itu tentu akan bekerja dan mengorbankan apa yang diperolehnya di dunia, untuk kepentingan akhirat tersebut, tetapi bila ia tidak yakin, ia tentu akan kikir, memburu dunia, dan tidak peduli dengan akhirat. Shadaqah itu adalah bukti kebenaran, oleh karena itu Allah menggabungkan kata “memberi” dengan “membenarkan” dan “kikir” dengan “dusta”.

Selain perkataan zakat al-Qur’an mempergunakan istilah shadaqah, infaq, dan haq. Zakat disebut infaq (Q.S. at-taubah ayat 34), karena hakikatnya zakat itu adalah penyerahan harta untuk kebajikan-kebajikan yang diperintahkan Allah SWT. Disebut sedekah (shadaqah) (Q.S. at-taubah ayat 60 dan 103), karena memang salah satu tujuan utama adalah untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT. Zakat disebut haq, karena memang zakat itu merupakan ketetapan bersifat pasti dari Allah yang harus diberikan kepada yang berhak menerimanya (mustaqiq).

Kadang-kadang zakat disebut dengan shadaqah sebagaimana yang telah jelaskan di atas. Oleh karena itu, semua zakat adalah shadaqah, akan tetapi tidak semua shadaqah adalah zakat. Zakat adalah shadaqah wajib.

Pengertian shadaqah, infaq, hak dan zakat memang beragam sesuai sudut pandang yang memperhatikan, tetapi sebenarnya semuanya adalah shadaqah yang mana pengertian shadaqah lebih luas dan umum sesuai dengan surat at-taubah ayat 103 :” Ambilah sebagian dari harta mereka sebagai shadaqah utuk membersihkan dan mensucikan mereka dengannya “.

Shadaqah merupakan pengertian yang luas , dimana terbagi menjadi dua yang bersifat materil atau fisik ( tangible) serta yang bersifat non fisik (intangible). Yang bersifat tangible terbagi menjadi :

1. fardhu (wajib). Fardhu atau wajib terdiri dari:

a. Fardhu ‘ain (perorangan) adalah zakat yang terdiri dar zakat fitrah (zakat yang diperuntukan atas diri atau jiwa) dan zakat maal (zakat yang berlaku atas harta manusia);

b. Fardhu kifayah ialah infaq.

2. Sunah adalah shadaqah.

Menurut Kompilasi hukum ekonomi syariah, shadaqah adalah barang yang diberikan, semata-mata karena mengharap pahala.

Tujuan dan manfaat zakat mengandung unsur ekonomi

Zakat yang mengandung pengertian bersih, suci, berkembang, dan bertambah mempunyai makna yang sangat penting dalam kehidupan manusia baik sebagai individu maupun masyarakat. Dengan demikian lembaga zakat itu diwajibkan untuk dilaksanakan guna mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Yang dimaksud dengan tujuan dalam hubungan ini adalah sasaran praktisnya. Tujuan tersebut diantaranya:

1. Mengangkat derajat fakir miskin dan membantunya keluar dari kesulitan hidup serta penderitaan,

2. Membantu pemecahan permasalahan yang dihadapi oleh para gharimin, ibnu sabil, dan mustahiq lainnya,

3. Membentangkan dan membina tali persaudaraan sesama umat Islam dan manusia pada umumnya,

4. Menghilagkan sifat kikir dan atau loba pemilik harta,

5. Membersihkan diri dari sifat dengki dan iri (kecemburuan sosial) dalam hati orang-orang miskin,

6. Menjembatani jurang pemisah antara orang yang kaya dengan yang miskin dalam suatu masyarakat.,

7. Mengembangkan rasa tanggung jawab sosial pada diri seseorang, terutama pada mereka yang mempunyai harta kekayaan,

8. Mendidik manusia untuk berdisiplin menunaikan kewajiban dan menyerahkan hak orang lain yang ada padanya,

9. Sarana pemerataan pendapatan (rezeki) untuk mencapai keadilan sosial.

Menurut Dr. M. Quraish Shihab, zakat mempunyai dampak dan tujuan sebagai berikut :

Pertama, Mengikis habis sifat-sifat kikir di dalam jiwa seseorang, serta melatihnya memiliki sifat- sifat dermawan, dan mengantarkannya mensyukuri nikmat Allah, sehingga pada akhirnya ia dapat menyucikan diri dan mengembangkan kepribadiannya.

Kedua, menciptakan ketenangan dan ketentraman, bukan hanya kepada penerima, tetapi juga kepada pemberi zakat, infaq dan shadaqah.

Kedengkian dan iri hati dapat timbul dari mereka yang hidup dalam kemiskinan, pada saat melihat seseorang yang berkecukupan apalagi berkelebihan tanpa mengulurkan tangan bantuan kepada mereka. Kedengkian tersebut dapat melahirkan permusuhan terbuka yang dapat mengakibatkan keresahan bagi pemilik harta, sehingga pada akhirnya menimbulkan ketegangan dan kecemasan.

Ketiga, mengembangkan harta benda. Pengembangan ini dapat ditinjau dari dua sisi : (a) sisi spiritual, berdasar firman Allah, Allah memusnahkan riba dan mengembangkan shadaqah atau zakat (Q.S. 2 ; 276); dan (b) sisi ekonomis –psikologis, yaitu ketenangan batin dari pemberi zakat, infaq dan shadaqah akan mengantarkannya berkonsepsi dalam pemikiran dan usaha pengembangan harta; disamping itu, penerima zakat atau unfaq dan shadaqah akan mendorong terciptanya daya beli dan produksi baru bagi produsen yang dalam hal ini adalah pemberi zakat atau infaq dan shadaqah itu.

Menurut Chalid Fadlullah, SH, bahwa manfaat ibadah berzakat, termasuk infak/ shadaqah sangat banyak, yaitu :

1. Bagi yang menunaikan (muzakki, munfiq, musaddiq)

a. Membersihkan atau menyucikan jiwanya dari sifat-sifat kikir, bakhil, loba, dan tamak.

b. Menanamkan perasaan cinta kasih terhadap golongan yang lemah (dhu’afa).

c. Mengembangkan rasa dan semangat kesetiakawanan dan kepedulian sosial.

d. Membersihkan harta yang kotor, karena di dalam kekayaan itu sendiri terdapat (terselip) harta benda yang diwajibkan oleh Allah SWT untuk dikeluarkan, yang ini merupakan hak bagi delapan golongan (ashnaf) penerimannya.

e. Menumbuhkan kekayaan si pemilik , jika dalam memberikan zakat, infaq dan shadaqah tersebut dilandasi rasa tulus ikhlas dan lillahi ta’ala.

f. Terhindar dari ancaman Allah yang berupa siksaan pedih di hari kemudian nanti ( hari pembalasan).

2. Bagi penerima ( mustahiq)

a. Membersihkan ( menghilangkan) perasaan sakit hati, iri hati, benci dan dendam terhadap golongan kaya yang hidup serba cukup dan bermewah-mewahan, tetapi tidak ambil pusing terhadap penderitaan orang lain.

b. Menimbulkan rasa syukur kepada Allah SWT , dan rasa terima kasih serta simpati kepada golongan berada (kaya), karena diperingan penderitaan dan beban hidupnya.

c. Memperoleh modal kerja untuk usaha mandiri dan kesempatan hidup layak, tanpa tergantung belas kasihan pihak lain.

3. Bagi umara (pemerintah)

a. Menunjang keberhasilan pelaksanaan program pembangunan dalam meningkatkan kesejahteraan warganya.

b. Mengurangi beban umara dan mengatasi kasus-kasus kecemburuan sosial yang dapat mengganggu ketertiban dan ketntraman masyarakat.

Menurut Dr. Yusuf Qardhawi, tujuan zakat adalah sebagai berikut :

Tujuan zakat dan dampaknya bagi pemberi yaitu

1. Zakat mensucikan jiwa dari sifat kikir

2. Zakat mendidik berinfak dan member

3. Berakhlak dengan akhlak Allah

4. Zakat merupakan manifestasi syukur atas nikmat Allah

5. Zakat mengobati hati dari cinta dunia

6. Zakat mengembangkan kekayaan batin

7. Zakat menarik rasa simpati/ cinta

8. Zakat mensucikan harta, tetapi zakat tidak mensucikan harta yang haram

9. Zakat mengembangkan harta

Tujuan zakat dan dampaknya bagi si penerima, yaitu :

1. Zakat membebaskan si penerima dari kebutuhan

2. Zakat menghilangkan sifat benci dan dengki

Tujuan zakat dan dampaknya dalam kehidupan masyarakat yaitu :

1. Zakat dan tanggung jawab sosial

Pada sasaran ini ada yang bersifat identitas sosial, seperti menolong orang yang mempunyai kebutuhan, menolong orang-orang yang lemah, seperti fakir, miskin, orang yang berhutang, dan ibnu sabil.

2. Zakat dan aspek ekonominya.

Zakat dilihat dari aspek ekonomi adalah merangsang si pemilik harta kepada amal perbuatanuntuk mengganti apa yang telah diambil dari mereka. Ini terutama jelas sekali pada zakat mata uang, dimana Islam melarang menumpuknya, menahannya dari peredaran dan pengembangan.

3. Zakat dan tegaknya jiwa umat.

Zakat mempunyai sasaran-sasaran dan dampak-dampak dalam menegakan akhlak yang mulia yang diikuti dan dilaksanakan oleh umat Islam, dibangun kesadarannya dan dibedakannya dengan itu kepribadiannya.

Fungsi dan tujuan zakat yang paling mendasar yakni menanamkan nilai pendidikan (edukatif), keadilan, dan kesejahteraan sehingga diharapkan mampu memecahkan problem kemiskinan, memeratakan keadilan, dan meningkatkan kesejahteraan bangsa dan negara.

Menurut Afzalur rahman, tujuan zakat adalah mempersempit ketimpangan ekonomi di dalam masyarakat hingga di batas yang seminimal mungkin. Tujuannya adalah menjadikan perbedaan ekonomi di antara masyarakat secara adil dan seksama, hingga yang kaya tidak tumbuh semakin kaya (dengan mengeksploitasi anggota masyarakat yang miskin) dan yang miskin semakin miskin. Rasulallah SAW menjelaskan zakat merupakan uang yang dipungut dari orang-orang kaya dan diberikan kepada yang miskin. Oleh karena itu tujuannya adalah mendistribusikan harta di masyarakat dengan cara sedemikian rupa sehingga tidak seorang pun masyarakat muslim yang tinggal dalam keadaan miskin (melarat).

Dari tujuan-tujuan di atas tergambar bahwa zakat, sebagai salah satu ibadah khusus yang langsung kepada Allah mempunyai dampak yang sangat besar untuk kesejahteraan manusia dalam masyarakat.

Dengan terlaksananya lembaga zakat secara baik dan benar, kesulitan dan penderitaan fakir miskin akan berkurang. Disamping itu permasalahan yang terjadi dalam masyarakat, seperti masalah-masalah yang berhubungan dengan para mustahiq juga dapat dipecahkan. Dengan adanya pemberian zakat para muzakki kepada para mustahiq kekeluargaan sesama umat Islam semakin nampak, sehingga jurang pemisah antara orang kaya dengan yang miskin akan berkurang, diharapkan nantinya akan hilang sama sekali.

Zakat diperintahkan dengan tujuan untuk menjaga jangan sampai golongan miskin iri hati terhadap golongan kaya. Membersihkan yang dimaksud oleh firman Allah dalam ayat perintah zakat dapat dipahami sebagai membersihkan orang kaya dari sifat kikir dan membersihkan orang miskin dari sifat dengki dan iri hati.

Dilihat dari segi sosial, zakat dapat mengembangkan rasa tanggung jawab sosial. Perintah zakat itu merupakan upaya untuk melaksanakan ajaran Islam, masyarakat memikul tanggung jawab untuk melindungi anggota-anggotanya yang lemah dan memelihara kepentingannya. Masyarakat juga bertanggung jawab terhadap kaum fakir miskin yang ada di tengah-tengah mereka dan wajib member nafkah kaum miskin menurut kemampuannya. Sekurang-kurangnya seseorang wajib menyuruh orang yang mampu untuk membantu orang yang membutuhkan tanpa adanya ikatan atau syarat apapun selain menjalankan kewajiban. Dengan adanya rasa tanggung jawab sosial itu , maka setiap muslim akan melaksanakan kewajibannya sebagai anggota masyarakat.

Adanya kesadaran dari pihak si kaya untuk memberikan sebagian hartanya kepada orang yang membutuhkan mengakibatkan jurang pemisah dapat dihapuskan, pemerataan pendapatan dapat dilaksanakan sehingga keadilan sosial dapat diwujudkan.

Zakat adalah poros dan pusat keuangan Negara Islam. Zakat meliputi bidang moral, sosial, dan ekonomi. Dalam bidang moral zakat mengikis habis ketamakan dan keserakahan orang kaya. Dalam bidang sosial, zakat bertindak sebagai alat khas yang diberikan Islam untuk menghapuskan kemiskinan dari masyarakat dengan menyadarkan orang kaya akan tanggung jawab sosial yang mereka miliki. Dalam bidang ekonomi zakat mencegah penumpukan kekayaan yang mengerikan dalam tangan segelintir orang dan memungkinkan kekayaan untuk disebarkan sebelum sempat menjadi besar dan sangat berbahaya di tangan para pemiliknya. Zakat merupakan sumbangan wajib kaum muslimin untuk perbendaharaan Negara.

Zakat dan berbagai bentuk ibadah sedekah lainnya memilki posisi yang sangat potensial sebagai sumber pendapatan dan pembelanjaan dalam masyarakat muslim, disamping juga sebagai sumber daya untuk mengatasi berbagai macam “ social cost” yang diakibatkan dari interaksi manusia, dan zakat berposisi fardhu ‘ain (kewajiban pribadi atau individu) bagi rakyat yang beragama Islam. Islam menganjurkan umatnya untuk hidup wajar, baik sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan agamanya.

Dalam masyarakat Islam tidak boleh ada anggota (baik muslim maupun non muslim/ahluzzimmah) yang kelaparan, telanjang, atau hidup di kolong jembatan. Untuk itu Islam mengajarkan melalui rasulallah SAW untuk menanggulangi kemiskinan. Karena kemiskinan adalah musuh nomor satu dalam kehidupan manusia di dunia ini. Kemiskinan mengancam akidah umat dan menyebabkan timbulnya kekacauan, kejahatan, dekadensi moral. Menurut ulama ada empat cara menanggulangi kemiskinan dan kemelaratan ialah :

1. Bekerja dengan giat dan bersemangat

2. Keluarga yang lemah menjadi tanggung jawab keluarga yang kuat

3. Kewajiban membayar zakat

4. Disamping itu ada jaminan pemerintah untuk keluarga yang tidak mampu.

Sebagai contoh manfaat zakat dapat dikemukakan satu kasus di daerah kabupaten Sukabumi yang berpenduduk +_ I,7 juta jiwa, terdiri dari 400.000 kepela keluarga(KK), setidak-tidaknya 10 % dari 400.000 KK tersebut adalah wajib zakat, bila dilakukan pemungutan zakat secara konsepsional dan terarah, maka pemsukan dana dari sektor zakat ini akan bisa mencapai Rp. 2 milyar per tahun. Jumlah tersebut akan melebihi pendapatan asli daerah dari berbagai sektor retribusi sekitar 15 %. Dari perkiraan contoh tersebut maka efaetifitas pelaksanaan zakat merupakan salah satu sector penunjang lajunya pertumbuhan ekonomi Nasional.

Zakat bukan hanya sekedar sebuah bentuk ibadah. Juga bukan sekedar realisasi dari kepedulian seorang muslim terhadap orang miskin. Lebih dari itu, zakat ternyata memiliki fungsi yang sangat strategis dalam konteks system ekonomi, yaitu sebagai salah satu instrument distribusi kekayaan.

Pengertian Wakaf

Secara etimologis wakaf berasal dari kata waqafa-yaqifu-waqfan, mempunyai arti menghentikan atau menahan (al-habs). Secara terminologis ulama telah memberikan definisi wakaf sebagai berikut :

1.Menurut Mazhab Syafi’i, antara lain

a. Wakaf menurut Imam Nawawi, ” menahan harta yang dapat diambil manfaatnya tetapi bukan untuk dirinya, sementara benda itu tetap ada padanya dan digunakan manfaatnya untuk kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah”.

b. Wakaf menurut Ibn Hajar Al-Haitami dan Syaikh Umairah, ”menahan harta yang bisa dimanfaatkan dengan menjaga keutuhan harta tersebut, dengan memutuskan kepemilikan barang tersebut dari pemiliknya untuk hal yang dobolehkan.

2. Menurut Mazhab Hanafi

a. Wakaf menurut Imam Syarkhasi, ” menahan harta dari jangkauan kepemilikan orang lain

b. Wakaf menurut al-Mughni adalah menahan harta di bawah tangan pemiliknya, disertai pemberian manfaat sebagai shadaqah.

3. Menurut mazhab Maliki

Ibnu Arafah mendefenisikan wakaf dengan memberikan manfaat sesuatu, pada batas waktu keberadaanya, bersamaan tetafnya wakaf dalam kepemilikan si pemiliknya meski hanya perkiraan.

Menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakannya untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadah atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran islam, sedangkan menurut UU No. 41 tahun 2004 tentang wakaf. Wakaf adalah perbuatan hukum wakif untuk memisahkan dan / atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan / atau kesejahteraan umum menurut syariah.

Tujuan dan Fungsi Wakaf berdimensi ekonomi

Wakaf bertujuan memanfaatkan benda wakaf sesuai dengan fungsinya, dan wakaf berfungsi mewujudkan potensi dan manfaat ekonomis harta benda wakaf untuk kepentingan ibadah dan untuk memajukan kesejahteraan umum.

Dalam Islam, wakaf sejatinya merupakan salah satu instrumen ekonomi yang sangat potensial untuk menopang kesejahteraan umat. Namun sampai saat ini, peran wakaf belum dirasakan secara maksimal.

Wakaf Sebagai Sumber daya Ekonomi

Salah satu konsep sumber daya ekonomi, apabila dikaitkan dengan tanah mungkin dapat dipahami, bahwa tanah merupakan ” natural resources ”, kecuali manusia sebagai ” human resources ” (sumber daya manusia). Dalam pengalaman sejarah, ekonomi suatu bangsa dan negara akan dapat tumbuh dan berkembang, apabila kedua faktor tersebut dapat dikelola sebaik mungkin dengan menggunakan penemuan-penemuan baru dalam iptek.

Bertolak dari pemikiran di atas, maka harta wakaf sebagi lembaga sosial Islam, pada hakikatnya mempunyai yang sama dan dapat digunakan sebagai salah satu sumber daya ekonomi. Artinya, penggunaan harta wakaf tidak terbatas hanya untuk keperluan kegiatan-kegiatan tertentu sajaberdasarkan orientasi konvensional, sepert ; pendidikan, masjid, rumah sakit, panti asuhan,dan lain-lain, tetapi harta wakaf dalam pengertian makro dapat pula dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan ekonomi, seperti ; pertanian termsuk ”mixed farm ” atau pertanian dan peternakan, industri, pertambangan, realestate, office building, hotel, restoran, dan lain-lain. Kedudukan tanahnya tetap, sebagai tanah wakaf, tetapi hasilnya mungkin dapat dimanfaatkan secara lebih optimal, ketimbang misalnya tanah wakaf hanya digunakan untuk sarana-sarana yang terbatas saja. Tentu saja, umat Islam tidak perlu memanfaatkan semua tanah wakaf hanya untuk tujuan-tujuan produktif saja, tetapi hal ini dapat dianggap sebagai salah satu alternatif untuk mengoptimalkan fungsi wakaf itu.

Di Mesir, Universitas al-Azhar sebagai pemilik tanah wakaf, dari aset yang dimilikinya itu dapat berperan serta sebagai pemilik saham pada Egypt Airline. Dari hasil tanah pertanian yang dimiliki oleh Universitas al-Azhar sebagai tanah wakaf, al-Azhar mampu membeli saham-saham dari perusahaan penerbangan nasionalnya, bahkan hasil-hasil tanah wakafnya dapat menutup seluruh biaya kegiatan pendidikan al-Azhar. Mulai dari TK sampai perguruan tinggi al-Azhar tidak memungut biaya kepada peserta didiknya, bahkan tersedia beasiswa yang cukup beserta tiket pesawat terbang pulang pergi (PP). Bagi mereka yang berasal dari luar negeri, apabila mereka memerlukannya. Mungkin pengalaman Universitas al-Azhar ini dapat dijadikan sebagai salah satu pola bagi umat Islam di Indonesai untuk mengembangkan harta-harta wakaf yang dimilikinya.

Optimalisai pemanfaatan harta wakaf

Dari ilustrasi di atas, ada beberapa langkah yang diperlukan untuk optimalisasi harta wakaf, yaitu :

1. Pendataan atau inventarisasi tanah-tanah (harta) wakaf yang berisi informasi tentang luas tanah, lokasi tanah, peruntukan tanah, nazhir (pengelola) tanah wakaf ( kelompok orang atau badan hukum) , program kerja pengelola tanah wakaf dan lain-lain yang relevan.

2. Penyusunan ”planing” jangka pendek, menengah dan panjang. Perencanaan itu hendaklah dikaitkan dengan sejumlah program kerja dalam bidang-bidang pendidikan dan sosial dalam arti yang luas, sehingga dapat diperoleh suatu gambaran berupa dana yang diperlukan untuk setiap program itu dan berapa mungkin dana yang dapat dihasilkan melalui pemnfaatan atau pendayagunaan tanah-tanah wakaf secara produktif.

3. Dengan memperhatikan potensi-potensi tanah wakaf, maka dapat ditentukan prioritas penggunaannya, apakah lebih bermanfaat untuk kepentingan pendidikan dan sosial, atau untuk dikelola secara ekonomi sehingga tanah-tanah wakaf itu akan memberikan nilai tambah bagi lembaga wakaf itu sendiri.

Mungkin dapat ditempuh suatu strategi campuran, sebagian tanah wakaf itu digunakan untuk kepentingan pendidikan dan sosial secara permanen dan sebagian lagi digunakan untuk pengembangan tanah wakaf itu dalam arti optimalisasi tujuan wakaf itu sendiri, denga kata lain mengelola tanah-tanah wakaf itu secara produktif kombinasi antara tanah wakaf yang digunakan secara langsung dan tanah wakaf yang dikelola untuk tujuan-tujuan produktif sangat ideal. Di pulau Jawa hampir sebagian besar pesantrenpesantren menggunakan cara ini. Melalui cara ini, lembaga-lembaga pendidikan Islam dapat ber-swasembada dan dapat bertahan.

4. Prinsip-prinsip manajemen kontemporer yang sesuai ajaran Islam perlu diterapkan dalam pengelolaan dan pengembangan tanah wakaf, artinya tanah wakaf itu harus dikelola secara profesional oleh manajer yang profesional. Dengan demikian perlu usaha-usaha yang serius dan bukan bersifat ”nyambi”. Karena itu, kajian perbandingan tentang wakaf di negara-negara lain perlu dilakukan.

5. Di negara-negara barat, tidak sedikit ”foundation” atau ” stichting” yang sudah mapan (established), seperti ” Ford Foundation”, Reckefeller Foundation” dan lain-lain. Mungkin dari segi manajemen dan pengalaman mereka, kita dapat menarik manfaatnya. Untuk itu perlu diadakan surve atau penelitian mengenai segi-segi yang relevan dengan wakaf terhadap mereka.

Dari uraian di atas disimpulkan bahwa pemanfaatan tanah wakaf tidak lagi bertujuan satu target, atau multi target atau sekurangnya dua target, yaitu amal sosial dan amal ekonomi.

Dari rangkaian penjelasan di atas, jelaslah bahwa wakaf merupakan potensi yang dapat digunakan untuk dapat membantu pengentasan kemiskinan, dapat membantu negara kita untuk menutupi berbagai defisit angaran belanja negara kita yang hingga saat ini tidak pernah mengalami surplus, akan tetapi selalu defisit dari tahun ketahun, dan dapat mengurangi ketergantungan kita akan dana-dana pembangunanyang berasal dari hutang luar negeri.

Dalam perhitungan yang paling moderat dan sederhana yang pernah diajukan oleh Dr. Mustafa Edwin Nasution, dalam satu tahun dana wakaf tunai yang didapat saja adalah Rp. 3 trilyun. Bahkan ada yang bisa melakukan perhitungan hingga dana yang terkumpul mencapai Rp. 10 trilyun. Bila ini yang dilakukan, maka Indonesia tidak perlu lagi meminjam dana dari IMF. Apalagi dengan bentuk pinjaman yang konsepnya adalah stand by loan, sehingga dana pinjaman tersebut tidak bisa digunakan untuk keperluan produktif, melainkan hanya tersimpan saja di Bank Indonesia sebagai dana cadangan devisa.

Wakaf Benda bergerak (uang) Dalam Perspektif Fiqih dan Undang-undang

Dari keseluruhan Hadits yang terkait dengan hukum perwakafan, tak satupun yang menggunakan kata waqf ( wakaf). Kata wakaf ditemukan dalam kitab-kitab fiqih dan dalam kitab-kitab hadits sebagai nama judul bab. Hadits Nabi menggunakan kata habs (menahan) sebagai kata yang semakna dengan kata waqafa dan amsaka yang berarti berhenti dan menahan.

Wakaf pada intinya adalah sedekah dari manfaat atau keuntungan yang diperoleh dari benda wakaf dengan ketentuan menahan benda itu agar tidak diperjualbelikan, dihibahkan dan diwariskan dengan tujuan agar manfaat dan keuntungan benda itu tetap langgeng (dawam al-intifa) dan pahalanya tetap mengalir pada pewakaf (wakif).

Prinsip langgengnya (kekalnya) manfaat itu tampaknya merupakan prinsip yang utama dari keseluruhan prinsip wakaf. Dalam rangka menafsirkan prinsip inilah para Ulama berijtihad mengklasifikasi dan merinci jenis-jenis benda mana yang dapat diwakafkan dan yang tidak dapat diwakafkan.

Imam Muhyiddin an-Nawawi mensyaratkan agar benda itu mempunyai daya tahan agar manfaat dan keuntungan dari benda wakaf itu dapat terjaga. Menurutnya benda itu tidak dapat berupa sesuatu yang dapat dimakan dan tidak pula bentuk minyak wangi. Ia membolehkan mewakafkan binatang ternak dan benda-benda bergerak lainnya.

Senada dengan itu, Abu ishaq al-Syirazi mengatakan, bahwa setiap benda yang tidak rusak dan tahan lama yang dapat diambil manfaatnya, dapat diwakafkan. Sesuatu yang tidak dapat diambil manfaatnya secara terus menerus seperti makanan dan minyak wangi tidak dapat diwakafkan.

Dari pendapat di atas, nyatalah bahwa klasifikasi dan rincian jenis-jenis benda yang dapat diwakafkan dan tidak dapat diwakafkan terkait eret dengan prinsip langgengnya manfaat (dawam al-intifa’). Dengan kemajuan teknologi boleh jadi benda yang dulu dianggap tidak ada manfaatnya akan menjadi sebaliknya dan itu berarti dapat diwakafkan. Dan bisa jadi, dengan kemajuan teknologi, benda yang dulu tidak tahan lama akan menjadi sebaliknya pula dan itu berarti dapat diwakafkan.

Barangkali dulu orang beranggapan unag menjadi tidak ada lagi jika ditukarkan (dibelikan) karena uang dianggap sebagai alat tukar menukar belaka. Bagaimana pada kondisi kini uang dapat dijadikan komoditi dagang yang menguntungkan, uang dapat didepositokan yang setiap jangka waktu tertentu dapat diambil keuntungannya, dan uang dapat diinvestasikan dalam bentuk saham-saham perusahaan yang dalam priode tertentu dapat menerima keuntungan. Persoalan ini dapat dikembalikan jawabannya pada prinsip langgengnya (dawam al-intifa’). Atas dasar prinsip ini uang etap utuh, baik dalam bentuk benda, lembaran saham maupun dalam bentuk lainnya dan memberikan manfaat dan keuntungan.

Kebolehan mewakafkan uang sebenarnya sudah ada diantara para ulama, walaupun ada yang berbeda pendapat. Menurut ualam Hanafiyah bahwa pada dasarnya benda yang diwakafkan benda bergerak, namun benda bergerak boleh diwakafkan dalam beberapa hal :

Pertama, keadaan harta bergerak itu mengikuti benda tidak bergerak dan ini ada dua macam :

a)Barang tersebut mempunyai hubungan dengan sifat diam di tempat dan tetap. Misalnya bangunan dan pohon. Menurut mereka bangunan dan pohon termasuk benda bergerak yang tergantung pada benda tidak bergerak.

b) Benda bergerak yang dipergunakan untuk membantu benda tidak bergerak seprti alat untuk membajak, dan kerbau yang digunakan untuk bekerja.

Kedua, kebolehan wakaf benda bergerak itu berdasarkan asar yang memperbolehkan wakaf senjata dan binatang-binatang yang digunakan untuk berperang. Sebagaimana Hadits Nabi SAW berikut : ” Dari Abu Hurairah berkata, bersabda Rasulallah SAW : Barang siapa mewakafkan kudanya (untuk dipersiapkan) dalam perjuangan di jalan Allah dengan penuh perasaan iman dan mengharap ridha Allah, maka makanannya, kotorannya dan air kencingnya di hari kiamat nanti dalam timbangan akan terdapat beberapa kebaikan ”.

Ketiga, Wakaf benda bergerak itu mendatangkan ilmu pengetahuan sepert wakaf kitab suci al-Qur’an dan mushaf. Menurut mereka pengetahuan adalah sumber pemahaman dan tidak bertentangan dengan nash. Ulama Hanafiyah menyatakan bahwa untuk mengganti benda wakaf yang dikhawatirkan tidak kekal adalah memungkinkan kekalnya manfaat. Menurut mereka mewakafkan buku-buku dan mushaf dimana yang diambil adalah pengetahuannya adalah sama dengan mewakafkan dinar dan dirham (uang). Dengan demikian jelaslah bahwa ulama Hanafiyah membolehkan wakaf uang. Begitu juga Imam al-Zuhri berpendapat bahwa mewakafkan dinar (uang), hukumnya boleh dengan cara menjadikan dinar tersebut sebagai modal usaha. Keuntungan usaha tersebut kemudian dikeluarkan kepada maukuf ’alaih. Disamping az-Zuhri dan ulama hanafiyah, sebagian ulama Syafi’iyah (ashab Syafi’i) juga membolehkan wakaf dinar dan dirham.

Bolehnya mewakafkan benda-benda bergerak seperti uang dan saham ini sangat penting untuk mengembangkan benda-benda tidak bergerak itu secara produktif dan hasilnya dapat berfungsi mewujudkan potensi dan manfaat ekonomis harta benda wakaf dan untuk memajuakan kesejahteraan umum.

Mengenai wakaf uang di indonesia pada saat ini sudah tidak ada masalah lagi. Pada tanggal 11 mei 2002 Komisi fatwa MUI menetapkan fatwa tentang wakaf uang, yang isinya sebagai berikut : (1) Wakaf uang (cash wakaf / waqf an-nuqud) adalah wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga dan badan hukum dalam bentuk uang tunai (2) termasuk ke dalam pengertian uang adalah surat-surat berharga (3) Wakaf uang hukumnya jawaz (boleh) (4) Wakaf uang hanya boleh disalurkan oleh syar’i (5) nilai pokok wakaf uang harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan, dan/atau diwariskan.

Dalam pasal 16 ayat (3) UU No. 41 tahun 2004 tentang wakaf, harta benda wakaf tidak dibatasi pada benda tidak bergerak saja tetapi seperti benda bergerak seperti uang, logam mulia, surat berharga, kendaraan, hak kekayaan intelektual, hak sewa, dan benda bergerak lain sesuai ketentuan syariah dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bahkan dalam undang-undang ini, wakaf uang diatur dalam bagian tersendiri. Dalam pasal 28 undang-undang ini disebutkan bahwa wakif dapat mewakafkan benda bergerak berupa uang melalui lembaga keuangan syariah yang ditunjuk oleh menteri. Dalam penjelasan pasal ini, yang dimaksud lembaga keuangan syariah adalah badan hukum Indonesia yang bergerak di bidang keuangan syariah. Kemudian dalam pasal 29 ayat (1) disebutkan pula sebagaimana dimaksud dalam pasal 28, dilaksanakan oleh wakif dengan pernyataan kehendak yang dilakukan secara tertulis. Pernyataan kehendak wakif secara tertulis tersebut dilakukan kepada lembaga keuangan syariah dimaksud. Dalam ayat (2) pasal yang sama dinyatakan bahwa wakaf benda bergerak berupa uang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diterbitkan dalam bentuk sertifikat wakaf uang. Sedangkan pada ayat (3) pasal yang sama juga diatur bahwa sertifikat wakaf uang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterbitkan dan disampaikan oleh lembaga keuangan syariah kepada wakif dan nazhir sebagai bukti penyerahan harta benda wakaf. Adapun ketentuan lain lebih lanjut mengenai wakaf benda bergerak yang berupa uang akan diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.

Pengembangan wakaf uang ini memang tidak mudah, karena resikonya cukup tinggi. Oleh karena itu nadzir diharapkan dimasa yang akan datang adalah nazhir profesional yang mampu mengembangkan harta wakaf, sehingga wakaf dapat berkembang dengan baik dan dapat dipergunakan untuk meningkatkan kesejahteraan umat. Apalagi nadzir benda bergerak berupa uang, tentu dalam hal ini tidak semua lembaga wakaf dapat mengelola wakaf uang. Karenai itu diharapkan BWI (Badan Wakaf Indonesia) dapat menjalankan tugas dan wewenangnya, dan ia mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan perwakafan di Indonesia sehingga nantinya wakaf dapat berfungsi sebagaimana disyariatkannya wakaf.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar